Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.
- Syarat sebuah paragraf
Di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
1. Kalimat Pokok
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
2. Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.
1. Paragraf Deskriptif
Deskripsi adalah salah satu jenis karangan yang melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dicium oleh penulis tentang objek yang dimaksud.
2. Paragraf Narasi
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
3. Paragraf Deskripsi
Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut. Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:menggambarkan atau melukiskan sesuatu, penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
4. Paragraf Eksposisi
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
5. Paragraf Argumentasi
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
6. Paragraf Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
Sabtu, 02 Juni 2012
Cerita lucu
Pesan Nasi Goreng
Ada sepasang kekasiih masuk ke warung nasi goreng. Lalu datang pelayan mau menanyakan pesanan mereka. Kemudian si pria memesan,
"Bang pesan nasi goreng 2. Yang satu pedas, yang satu jangan pedas. Kalo yang pedas nasinya sedikit saja. Yang tidak pedas, nasinya agak banyakan. Yang nasinya banyak, pake kol tapi jangan terlalu banyak. Yang nasinya sedikit, pake kol agak banyak. Yang kol nya sedikit, pake telor mata sapi. Yang kol nya banyak, pake telor dadar aja. Yang pedas, ayamnya pake tulang ya bang, terus yang nasinya banyak, ga usah pake tulang, tapi kulit ayamnya kasih banyak. Yang pake telor mata sapi, jangan pake kerupuk. Terus yang pedas pake kerupuk. Satu lagi mas, jangan lama-lama ya...."
Kemudian si pelayan masuk terus bilang sama koki, " MEJA NO 5 PESAN 2 PIRING NASI GORENG, MASING-MASING PAKE CABE 50 BIJI !!!! "
Malas Berangkat ke Sekolah Terbaru
Udin adalah seorang siswa SD di desa Sukamalas dan terkenal sangat sering bolos sekolah. Saat dia masuk sekolah gurunya langsung menemuinya dan bertanya.
Guru: “Udin! Kenapa akhir – akhir ini kamu selalu membolos? Sudah satu minggu kamu absen.”
Udin: “Malas bu hujan terus soalnya.”
Guru: “Kalau hujannya sebulan gimana Udin?”
Udin: “Yang pasti bakalan banjir bu…”
Cuma Bercanda Kok
Cewek: Maaf ya mas, aku mau kita putus…
Cowok: Kenapa? Padahal aku baru aja beli mobil baru supaya kita ngga kehujanan dan kepanasan lagi.
Cewek: Yang bener mas? Hehe tadi putusnya cuma bercanda kok.
Cowok: Hahaha, mobil barunya juga bercanda kok.
Cewek: *?&S^!#@
Selama kehamilan :
> > > 3 bulan pertama = bercinta dengan gaya normal.
> > > 3 bulan selanjutnya = bercinta dengan gaya doggy style
> > > 3 bulan terakhir = bercinta dengan gaya srigala.
(maksudnya: cuma nongkrong “di luar” goa dan meraung : “aaaauuuuuuuu….”)
Istri selingkuh
Seorang pria terisak-isak di sebuah bar.
Temannya bertanya, kenapa?
Pria tersebut berkata : “Istri-ku minta bayaran Rp. 100.000,- setiap bercinta!”
Temannya berkata : “Anda beruntung, pada saya dia minta Rp. 250.000,-.
Ada sepasang kekasiih masuk ke warung nasi goreng. Lalu datang pelayan mau menanyakan pesanan mereka. Kemudian si pria memesan,
"Bang pesan nasi goreng 2. Yang satu pedas, yang satu jangan pedas. Kalo yang pedas nasinya sedikit saja. Yang tidak pedas, nasinya agak banyakan. Yang nasinya banyak, pake kol tapi jangan terlalu banyak. Yang nasinya sedikit, pake kol agak banyak. Yang kol nya sedikit, pake telor mata sapi. Yang kol nya banyak, pake telor dadar aja. Yang pedas, ayamnya pake tulang ya bang, terus yang nasinya banyak, ga usah pake tulang, tapi kulit ayamnya kasih banyak. Yang pake telor mata sapi, jangan pake kerupuk. Terus yang pedas pake kerupuk. Satu lagi mas, jangan lama-lama ya...."
Kemudian si pelayan masuk terus bilang sama koki, " MEJA NO 5 PESAN 2 PIRING NASI GORENG, MASING-MASING PAKE CABE 50 BIJI !!!! "
Malas Berangkat ke Sekolah Terbaru
Udin adalah seorang siswa SD di desa Sukamalas dan terkenal sangat sering bolos sekolah. Saat dia masuk sekolah gurunya langsung menemuinya dan bertanya.
Guru: “Udin! Kenapa akhir – akhir ini kamu selalu membolos? Sudah satu minggu kamu absen.”
Udin: “Malas bu hujan terus soalnya.”
Guru: “Kalau hujannya sebulan gimana Udin?”
Udin: “Yang pasti bakalan banjir bu…”
Cuma Bercanda Kok
Cewek: Maaf ya mas, aku mau kita putus…
Cowok: Kenapa? Padahal aku baru aja beli mobil baru supaya kita ngga kehujanan dan kepanasan lagi.
Cewek: Yang bener mas? Hehe tadi putusnya cuma bercanda kok.
Cowok: Hahaha, mobil barunya juga bercanda kok.
Cewek: *?&S^!#@
Selama kehamilan :
> > > 3 bulan pertama = bercinta dengan gaya normal.
> > > 3 bulan selanjutnya = bercinta dengan gaya doggy style
> > > 3 bulan terakhir = bercinta dengan gaya srigala.
(maksudnya: cuma nongkrong “di luar” goa dan meraung : “aaaauuuuuuuu….”)
Istri selingkuh
Seorang pria terisak-isak di sebuah bar.
Temannya bertanya, kenapa?
Pria tersebut berkata : “Istri-ku minta bayaran Rp. 100.000,- setiap bercinta!”
Temannya berkata : “Anda beruntung, pada saya dia minta Rp. 250.000,-.
Sejarah Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu, karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu, seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan lain sebagainya. Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia merupakan sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.
Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, “Jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia.” atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, “…bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia.”
Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur, sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.
Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi yang pada masa lalu digunakan oleh kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.
Pemerintah kolonial Belanda melihat kelenturan Melayu Pasar dapat mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, diantaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah digunakan oleh banyak pedagang dalam berkomunikasi.
Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan bahwa, “Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.”
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti: Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, “Jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia.” atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, “…bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia.”
Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur, sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.
Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi yang pada masa lalu digunakan oleh kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.
Pemerintah kolonial Belanda melihat kelenturan Melayu Pasar dapat mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, diantaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah digunakan oleh banyak pedagang dalam berkomunikasi.
Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan bahwa, “Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.”
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti: Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.
Pengertian Dongeng
1. Definisi Dongeng
Dongeng adalah cerita-cerita zaman dulu yang berbentuk prosa, yaitu tentang cerita khayal dan penuh keajaiban. Dongeng itu disampaikan dari mulut ke mulut sehingga tidak mengherankan jika kebenaran isinya makin berkurang . Di dalam pembicaraan sehari-hari dalam bahasa inggris dongeng disebut folklore (Sutjipto dalam Zufahnur dkk, 1996:43). Dongeng merupakan suatu ceita fantasi yang kejadiannya tidak benar terjadi. Sebagai folklor, dongemg cerita yang hidup dikalangan masyarakat yang disajikan dengan cara bertutur lisan oleh tukang cerita. Munculnya hampir hampir bersamaan dengan adanya kepercayaan dan kebudayaan suatu bangsa. Bagi manusia, berfungsi sebagai hiburan, kepercayaan yang bersifat didaktik (pengajaran moral dan nasehat bagi kehidupan), dan sumber pengetahuan.
Menurut Sande (La Ode Taalami, 2008:17), dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi yang empunya dongeng dan tidak terikat oleh Waktu dan tempat. Ahli lain mengatakan bahwa dongeng adalah cerota lama yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama.
Surana (La Ode Taalami 2008:18) berpendapat bahwa dongeng umumnya merupakan percakapan yang diturunkan atau yang diceritakan kembali dari mulut ke mulut. Ceritanya hanyalah bualan semata-mata, khayal dan ajaib. Tujuan utama adalah khayalan merupakan penghibur sedih dan pelipur lara. Isinya banyak mengandalkan nasehat serta gammbaran kehidupan masyarakat.
Menurut Alfandiyar (2007 : 23-24), dongeng merupakan salah satu cara yang efektif menyembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan) afektif (perasaan, sosial), dan aspek kognitif (penghatan) anak-anak. Selain itu dongeng pun dapat membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialaminya. Rasulullah saw pun tak segan-segan menggunakan metode dongeng atau cerita agar anak-anak teransang otaknya dan tergugah perasaanya. Dari dongeng tersebut beribu-ribu hikmah yang membuat anak-anak merasa belajar sesuatu. Lewat dongeng anak-anak tak merasa digurui karena mereka merespon segala sesuatu dengan cara mereka sendiri.
Dalam bukunya ”A Book Fol Children Literature, lilian holowel (Sohur,1986) merumuskan 6 hal mengapa dongeng diperlukan
1. Daya imajinasi yang berkembang dan pengalaman emosional yang makin mendalam,
2. Pemuasan kebutuhan akan ekspresi diri,
3. Pendidikan moral yang diperoleh tanpa merasa digurui,
4. Tumbuhnya rasa humor yang menyeluruh,
5. Persiapan apresiasi sastra dalam hidup untuk dikemudian hari,
6. Memperlebar horison mental si anak dan memberikan kepadanya kesempatan untuk meresai berbagai keindahan suasana negara-negara lain.
2. Pelaku atau Tokoh Dongeng
o Dewa dan dewi, ibu dan saudara tiri yang jahat, raja dan ratu, pangeran dan putri, ahli nujum;
o peri, wanita penyihir, raksasa, orang kerdil, putri duyung, monster, naga;
o binatang, misalnya ikan ajaib dan kancil;
o kastil, hutan yang memikat, negeri ajaib;
o benda ajaib, misalnya lampu ajaib, cincin, permadani, dan cermin.
3. Tema Dongeng
Biasanya, suatu dongeng mempunyai tema seperti ini.
• Moral tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan.
• Kejadian yang terjadi di masa lampau, di suatu tempat yang jauh sekali
• Tugas yang tak mungkin dilaksanakan.
• Mantra ajaib, misalnya mantra untuk mengubah orang menjadi binatang.
• Daya tarik yang timbul melalui kebaikan dan cinta.
• Pertolongan yang diberikan kepada orang baik oleh makhluk dengan kekuatan ajaib.
• keberhasilan anak ketiga atau anak bungsu ketika sang kakak gagal.
• Kecantikan dan keluhuran anak ketiga atau anak bungsu.
• Kecemburuan saudara kandung yang lebih tua.
• Kejahatan ibu tiri.
4. Kalimat Pembuka Dongeng
Contoh kalimat pembuka:
# Syahdan pada zaman dahulu kala, di negeri antah berantah
# Kata sahibul hikayat
# Pada zaman dahulu kala
# Pada masa silam
# Beribu-ribu tahun yang lalu
# Di suatu negeri yang jauh
# Dalam bahasa muna
5. Struktur Dongeng
1. Pendahuluan
Pernyataan umum, kalimat pengantar untuk memulai dongeng.
2. Kejadian atau peristiwa dalam dongeng
Kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis.
3. Penutup
Suatu pernyataan umum.
Kalimat yang sering digunakan, misalnya Mereka hidup bahagia selamanya. Komentar umum tentang kebaikan yang dapat menaklukan kejahatan atau pesan moral lainnya.
6. Jenis Dongeng
• Dongeng binatang/fabel
Fabel adalah dongeng binatang yang mengandung pendidikan tentang perbuatan baik dan buruk. Dalam fabel, tokoh binatang berperilaku seperti manusia.
Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekeri manusia. Dongeng Kancil dan Buaya, dan Kucing Bersepatu Bot merupakan contoh dongeng binatang. Biasanya, mereka digambarkan sebagai hewan cerdik, licik, dan jenaka. Didaerah Muna contohnya cerita ”Ondoke bhe Kapoluka” ( Monyet dan Kura-Kura).
• Dongeng biasa
Dongeng biasa adalah cerita tentang tokoh suka dan duka. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dan Jaka Tarub. Didaerah Muna contohnya Wamboro-Wamboro.
• Dongeng lelucon
Dongeng lelucon berisi cerita lucu tetang tokoh tertentu. Contoh dongeng ini yaitu Si Kabayan dari Jawa barat, Lebai Malang, Pak Pandir, Pak Belalang, Abunawas dari Arab, kalau didaerah Muna dikenal dengan nama Abunawasi.
7. Ciri-Ciri Lain Dongeng
1. Menggunakan alur sederhana.
2. Cerita singkat dan bergerak cepat.
3. Karakter tokoh tidak diuraikan secara rinci.
4. Ditulis dengan gaya penceritaan secara lisan.
5. Terkadang pesan atau tema dituliskan dalam cerita.
6. Biasanya, pendahuluan sangat singkat dan langsung
8. Contoh Dongeng
KAMOKULAHINO LIWU (ORANG TUA KAMPUNG)
Dongeng adalah cerita-cerita zaman dulu yang berbentuk prosa, yaitu tentang cerita khayal dan penuh keajaiban. Dongeng itu disampaikan dari mulut ke mulut sehingga tidak mengherankan jika kebenaran isinya makin berkurang . Di dalam pembicaraan sehari-hari dalam bahasa inggris dongeng disebut folklore (Sutjipto dalam Zufahnur dkk, 1996:43). Dongeng merupakan suatu ceita fantasi yang kejadiannya tidak benar terjadi. Sebagai folklor, dongemg cerita yang hidup dikalangan masyarakat yang disajikan dengan cara bertutur lisan oleh tukang cerita. Munculnya hampir hampir bersamaan dengan adanya kepercayaan dan kebudayaan suatu bangsa. Bagi manusia, berfungsi sebagai hiburan, kepercayaan yang bersifat didaktik (pengajaran moral dan nasehat bagi kehidupan), dan sumber pengetahuan.
Menurut Sande (La Ode Taalami, 2008:17), dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi yang empunya dongeng dan tidak terikat oleh Waktu dan tempat. Ahli lain mengatakan bahwa dongeng adalah cerota lama yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama.
Surana (La Ode Taalami 2008:18) berpendapat bahwa dongeng umumnya merupakan percakapan yang diturunkan atau yang diceritakan kembali dari mulut ke mulut. Ceritanya hanyalah bualan semata-mata, khayal dan ajaib. Tujuan utama adalah khayalan merupakan penghibur sedih dan pelipur lara. Isinya banyak mengandalkan nasehat serta gammbaran kehidupan masyarakat.
Menurut Alfandiyar (2007 : 23-24), dongeng merupakan salah satu cara yang efektif menyembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan) afektif (perasaan, sosial), dan aspek kognitif (penghatan) anak-anak. Selain itu dongeng pun dapat membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialaminya. Rasulullah saw pun tak segan-segan menggunakan metode dongeng atau cerita agar anak-anak teransang otaknya dan tergugah perasaanya. Dari dongeng tersebut beribu-ribu hikmah yang membuat anak-anak merasa belajar sesuatu. Lewat dongeng anak-anak tak merasa digurui karena mereka merespon segala sesuatu dengan cara mereka sendiri.
Dalam bukunya ”A Book Fol Children Literature, lilian holowel (Sohur,1986) merumuskan 6 hal mengapa dongeng diperlukan
1. Daya imajinasi yang berkembang dan pengalaman emosional yang makin mendalam,
2. Pemuasan kebutuhan akan ekspresi diri,
3. Pendidikan moral yang diperoleh tanpa merasa digurui,
4. Tumbuhnya rasa humor yang menyeluruh,
5. Persiapan apresiasi sastra dalam hidup untuk dikemudian hari,
6. Memperlebar horison mental si anak dan memberikan kepadanya kesempatan untuk meresai berbagai keindahan suasana negara-negara lain.
2. Pelaku atau Tokoh Dongeng
o Dewa dan dewi, ibu dan saudara tiri yang jahat, raja dan ratu, pangeran dan putri, ahli nujum;
o peri, wanita penyihir, raksasa, orang kerdil, putri duyung, monster, naga;
o binatang, misalnya ikan ajaib dan kancil;
o kastil, hutan yang memikat, negeri ajaib;
o benda ajaib, misalnya lampu ajaib, cincin, permadani, dan cermin.
3. Tema Dongeng
Biasanya, suatu dongeng mempunyai tema seperti ini.
• Moral tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan.
• Kejadian yang terjadi di masa lampau, di suatu tempat yang jauh sekali
• Tugas yang tak mungkin dilaksanakan.
• Mantra ajaib, misalnya mantra untuk mengubah orang menjadi binatang.
• Daya tarik yang timbul melalui kebaikan dan cinta.
• Pertolongan yang diberikan kepada orang baik oleh makhluk dengan kekuatan ajaib.
• keberhasilan anak ketiga atau anak bungsu ketika sang kakak gagal.
• Kecantikan dan keluhuran anak ketiga atau anak bungsu.
• Kecemburuan saudara kandung yang lebih tua.
• Kejahatan ibu tiri.
4. Kalimat Pembuka Dongeng
Contoh kalimat pembuka:
# Syahdan pada zaman dahulu kala, di negeri antah berantah
# Kata sahibul hikayat
# Pada zaman dahulu kala
# Pada masa silam
# Beribu-ribu tahun yang lalu
# Di suatu negeri yang jauh
# Dalam bahasa muna
5. Struktur Dongeng
1. Pendahuluan
Pernyataan umum, kalimat pengantar untuk memulai dongeng.
2. Kejadian atau peristiwa dalam dongeng
Kejadian-kejadian yang disusun secara kronologis.
3. Penutup
Suatu pernyataan umum.
Kalimat yang sering digunakan, misalnya Mereka hidup bahagia selamanya. Komentar umum tentang kebaikan yang dapat menaklukan kejahatan atau pesan moral lainnya.
6. Jenis Dongeng
• Dongeng binatang/fabel
Fabel adalah dongeng binatang yang mengandung pendidikan tentang perbuatan baik dan buruk. Dalam fabel, tokoh binatang berperilaku seperti manusia.
Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekeri manusia. Dongeng Kancil dan Buaya, dan Kucing Bersepatu Bot merupakan contoh dongeng binatang. Biasanya, mereka digambarkan sebagai hewan cerdik, licik, dan jenaka. Didaerah Muna contohnya cerita ”Ondoke bhe Kapoluka” ( Monyet dan Kura-Kura).
• Dongeng biasa
Dongeng biasa adalah cerita tentang tokoh suka dan duka. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dan Jaka Tarub. Didaerah Muna contohnya Wamboro-Wamboro.
• Dongeng lelucon
Dongeng lelucon berisi cerita lucu tetang tokoh tertentu. Contoh dongeng ini yaitu Si Kabayan dari Jawa barat, Lebai Malang, Pak Pandir, Pak Belalang, Abunawas dari Arab, kalau didaerah Muna dikenal dengan nama Abunawasi.
7. Ciri-Ciri Lain Dongeng
1. Menggunakan alur sederhana.
2. Cerita singkat dan bergerak cepat.
3. Karakter tokoh tidak diuraikan secara rinci.
4. Ditulis dengan gaya penceritaan secara lisan.
5. Terkadang pesan atau tema dituliskan dalam cerita.
6. Biasanya, pendahuluan sangat singkat dan langsung
8. Contoh Dongeng
KAMOKULAHINO LIWU (ORANG TUA KAMPUNG)
Dahulukala disuatu kampung hiduplah dua orang bersaudara semuanya laki-laki. Keduanya gagah perkasa dari segi ketampanan di ibaratkan seperti matahari dan bulan. Sang kakak bernama Sahafahari sedangkan adiknya bernama Indara Bangsawali pada suatu hari mereka bercita-cita ingin merantau ke negri orang untuk mencari pengalaman, tidak diketahui pasti kemana mereka akan merantau tetapi keinginan ini sangat menggebuh.
Pada suatu hari tiba-tiba kampung yang ditinggali mereka dilanda angin topan, dan merekapun terbang diangkat angin topan melayang –layang tanpa arah dan tujuan. Alkisah Indara Bangsawali terdampar pada suatu kampung.dia berjalan kesana kemari mengelilingi kampong yang tampak sunyi senyap, kemudian dia bertemu dengan orang tua kampong. Maka bertanyalah Indra Bangsawali kepada orang tua itu, mengapa kampong ini sepi? Ternyata kampung tersebut telah kala dengan burung garuda,rakyatnya telah mati dimakan denga burung garuda itu. Dan untuk menyelamatkan indara bangsawali,maka dia disembunyikan didalam sebuah gendang.
Suatu hari datanglah burung garuda mencari mangsa di kampung tersebut. Dengan ke ahlian yang dimiliki Indara Bangsawali kemudian burung garuda tersebut berhasil dibunuhnya. Maka terbebaslah kampung tersebut dengan burung garuda dan akhirnya hiduplah dia bersama orangtua kampung tersebut.
Setelah beberapa lama timbullah ke keinginannya untuk bertemu dengan kakaknya, dan mulailah dia mengembara untuk menemukan kakaknya. Sementara itu kakaknya Sahafahari terdampar diatas atap salah seorang orang tua kampong yang lain. Kampong tempat Sahafahari juga tidak kala dengan serangan harimau, dan orang- orang sudah habis dimakan harimau tersebut. Orang tua kampung yang rumahnya ditempati mendarat Sahafahari mengatakan kepada sahafahari siapakah gerangan kamu ini? Lebih baik kamu pulang saja karena kampong ini sudah kala dengan harimau.
Orang tua kampong tersebut ternyata mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan disiapkan untuk di umpankan kepada harimau biar harimau datang, yang akan diserahkan sebagai pengganti dirinya dan orangtua ini berkata kepada Sahafahari bahwa anaknya akan diserahkan kepada harimau, dan bagi siapa saja yang dapat membunuh harimau maka akan dikawinkan dengan anaknya. Mendengar seruan ini Sahafahari berjanji akan membunuh harimau.
Pada suatu hari datanglah sang harimau. Sahafahari menjelma menjadi monyet dan mendekati harimau tersebut kemudian membunuhnya. Setelah harimau itu mati sesuai janji orang tua kampung maka Sahafahari dikawinkan dengan anak gadisnya. Akhirnya hiduplah mereka dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian tanpa adanya gangguan harimau.
Kembali kepada Indara Bangsawali yang terus melakukan pencarian dimana kakaknya berada. Dan mereka bertemu juga namun kakaknya Sahafahari telah beristri. Maka timbullah rasa irih dan dengki kepada kakaknya. Mulailah Indara Bangsawali mencari siasat untuk membunuh kakaknya dan memperistrikan iparnya. Maka disusunlah suatu siasat dengan mengajak kakaknya untuk berburuh di hutan.
Sesampai di hutan Indara Bangsawali membunuh kakaknya Sahafahari setelah itu dia pulang ke rumah dan melapor kepada orangtua kampong bahwa dia telah berpisah dengan kakaknya dan dia tidak kembali lagi. Setelah beberapa lama Sahafahari tidak kembali, maka indara bangsawali meminta kepada orangtua kampung agar bisa memperistri bekas iparnya
Empat puluh hari setelah kehilangan Sahafahari ternyata dia kembali muncul. Maka ter heran-heranlah Indara Bangsawali sambil berkata dalam hati “bagaimana Sahafahari bisa hidup padahal sudah jelas-jelas dia sudah saya bunuh”. Ternyata pada peristiwa pembunuhan itu Sahafahari tidak meninggal, melainkan dia ditolong seekor ular besar dengan cara menjilat luka ditubuh Sahafahari, dan akhirnya bisa selamat. Dengan kejadian itu maka ketahuanlah kedok dari Indara Bangsawali, dan kemudian diputuskan untuk membuang dia ketempat yang Jauh dan tidsak boleh kembali lagi.
Penulisan Karya Ilmiah
A. Pengetian dan Ciri Karya iLmiah
1. Pengertian
Karya ilmiah adalah suatu karangan yang disusun secara sistematis dan bersifat ilmiah. Sitematis berarti bahwa karangan atau karya tulis tersebut disusun menurut aturan tertentu dimana kaitan antara bagian-bagian tertentu sangat jelas dan padu. Berifat ilmiah berarti bahwa karya tulis tersebut menyajikan satu deskripsi, gagasan, argumentasi atau pemecahan masalah yang didasarkan pada berbagai bukti empirik atau kajian teoritis sehingga para pembacanya dapat merunut atau mencari kebenaran bukti empirik atau teori yang mendukung gagasan tersebut.
Pengertian di atas sejalan dengan pengertian yang diberikan oleh Brotowijoyo, yang dikutip oleh Zaenal Arifin sebagai berikut. Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang benar. (hal. 2). Ditambahkan pula karangan ilmiah harus ditulis secara jujur dan akurat berdasarkan kebenaran tanpa mengingat akibatnya. Kebenaran dalam sebuanh karya ilmiah bukan kebenaran normatif malinkan kebenaran obyektif dan positif sesuai dengan fakta dan data di lapangan.
2. Ciri-ciri Karya Ilmiah
Sebuah karya ilmiah dapat dikenal dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a) dari segi isi, karya ilmiah menyajikan pengetahuan yang dapat berupa gagasan, deskripsi tentang sesuatu atau pemecahan satu masalah;
b) pengetahuan yang disajiakan tersebut didasarkan pada fakta atau data (kajian empirik) atau pada teori-teori yang telah diakui kebenarannya;
c) sebuah karya ilmiah mengandung kebenaran yang objektif serta kejujuran dalam penulisan;
d) bahasa yang digunakan adalah bahasa baku dan banyak menggunakan istilah teknis, di samping istila-istila yang bersifat denotatif;
e) sistematika penulisan mengikuti cara tertentu.
B. Tujuan Penulisan Karya Ilmiah
Karya tulis ilmiah ditulis dengan berbagai tujuan berikut.
1. Menyampaikan gagasan kepada masyarakat luas atau karangan tertentu. Tujuan seperti ini, pada umumnya terkait dengan karya ilmiah yang berupa artikel yang dimuat dalam berbagai media masa.
2. Memenuhi tugas yang diberikan sebagai persyaratan dalam studi. Tujuan seperti ini, terkait dengan panulisan makalah dari guru atau dosen, serta penulisan skripsi, tesis, dan disertasi.
3. Mendiskusikan gagasan dengan kalangan tertentu dalam sebuah pertemuan ilmiah. Misalnya, karya ilmiah yang disusun untuk satu seminar, symposium, diskusi panel, dan sejenisnya.
4. Mengikuti perlombaan penulisan karya ilmiah.
1. Pengertian
Karya ilmiah adalah suatu karangan yang disusun secara sistematis dan bersifat ilmiah. Sitematis berarti bahwa karangan atau karya tulis tersebut disusun menurut aturan tertentu dimana kaitan antara bagian-bagian tertentu sangat jelas dan padu. Berifat ilmiah berarti bahwa karya tulis tersebut menyajikan satu deskripsi, gagasan, argumentasi atau pemecahan masalah yang didasarkan pada berbagai bukti empirik atau kajian teoritis sehingga para pembacanya dapat merunut atau mencari kebenaran bukti empirik atau teori yang mendukung gagasan tersebut.
Pengertian di atas sejalan dengan pengertian yang diberikan oleh Brotowijoyo, yang dikutip oleh Zaenal Arifin sebagai berikut. Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang benar. (hal. 2). Ditambahkan pula karangan ilmiah harus ditulis secara jujur dan akurat berdasarkan kebenaran tanpa mengingat akibatnya. Kebenaran dalam sebuanh karya ilmiah bukan kebenaran normatif malinkan kebenaran obyektif dan positif sesuai dengan fakta dan data di lapangan.
2. Ciri-ciri Karya Ilmiah
Sebuah karya ilmiah dapat dikenal dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a) dari segi isi, karya ilmiah menyajikan pengetahuan yang dapat berupa gagasan, deskripsi tentang sesuatu atau pemecahan satu masalah;
b) pengetahuan yang disajiakan tersebut didasarkan pada fakta atau data (kajian empirik) atau pada teori-teori yang telah diakui kebenarannya;
c) sebuah karya ilmiah mengandung kebenaran yang objektif serta kejujuran dalam penulisan;
d) bahasa yang digunakan adalah bahasa baku dan banyak menggunakan istilah teknis, di samping istila-istila yang bersifat denotatif;
e) sistematika penulisan mengikuti cara tertentu.
B. Tujuan Penulisan Karya Ilmiah
Karya tulis ilmiah ditulis dengan berbagai tujuan berikut.
1. Menyampaikan gagasan kepada masyarakat luas atau karangan tertentu. Tujuan seperti ini, pada umumnya terkait dengan karya ilmiah yang berupa artikel yang dimuat dalam berbagai media masa.
2. Memenuhi tugas yang diberikan sebagai persyaratan dalam studi. Tujuan seperti ini, terkait dengan panulisan makalah dari guru atau dosen, serta penulisan skripsi, tesis, dan disertasi.
3. Mendiskusikan gagasan dengan kalangan tertentu dalam sebuah pertemuan ilmiah. Misalnya, karya ilmiah yang disusun untuk satu seminar, symposium, diskusi panel, dan sejenisnya.
4. Mengikuti perlombaan penulisan karya ilmiah.
C. Fungsi/Manfaat Karya Ilmiah
Secara lengkap fungsi penulisan karya ilmiah yaitu:
1) sebagai rujukan atau reverence dalam mempersiapkan karya tulis atau kegiatan ilmiah, seperti seminar, melakukan penelitian, diskusi panel;
2) fungsi edukatif, yaitu sebagai sarana pendidikan yang dapat meningkatkan wawasan seseorang dalam berbagai ilmu;
3) karya ilmiah juga berfungsi menyebarluaskan perkembangan bidang ilmu kepada masyarakat luas atau kelompok tertentu yang terkait. Dalam hal ini karya ilmiah mempunyai tujuan yang sangat sentral, karena tanpa adanya karya ilmiah, ilmu baru yang sedasng berkembang hanya akan dimiliki oleh segelintir orang;
Manfaat karya ilmiah dapat kita kelompokan menjadi dua, yaitu manfaat untuk mesyarakat luas dan manfaat untuk penulis sendiri. Untuk masyarakat luas, karya ilmiah dapat dimanfaatkan sebagai rujukan, sumber untuk perluasan wawasan, serta mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Untuk penulis, penulisan karya ilmiah mempunyai manfaat yang sangat besar. Si Kumbang yang dikutip oleh Zainal Arifin (1993) menyebutkan enam manfaat sebagai berikut.
1) mengembangkan keterampilan membaca yang efektif karena ia harus membaca berbagai rujukan sebelum menulis;
2) penulis mendapat kesempatan berlatih untuk mengintegrasikan hasil bacaan dengan gagasan sendiri, kemudian mengembangkannya menjadi pemikiran yang lebih matang;
3) mengakrabkan penulis dengan perpustakaan, seperti menggunakan katalog dalam mencari buku di perpustakaan;
4) meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta dan data secara jelas dan sistematis;
5) dengan menulis karya ilmiah, penulis akan merasakan kepuasan intelektual, yaitu satu kepuasan yang berkaitan dengan kemampuan untuk menyajikan satu khazanah pengeteahuan;
6) dengan menulis karya ilmiah, penulis ikut menyumbang bagi perluasan cakrawala ilmu pengetahuan masyrakat.
D. Struktur Penyajian Karya Ilmiah
Secara garis besar, struktur penyajian karya ilmiah terdiri atas bagian pendahuluan, pokok pembahasan, dan penutup. Dengan demikian, sebuah karya ilmiah akan selalu mulai dengan suatu pengantar yang menuju ke pokok pembahasan, dan diakhiri dengan penutup yang dapat berupa simpulan. Pengantar atau yang sering disebut dengan pendahuluan dapat berupa latar belakang yang menggambarkan pentingnya topik yang akan dibahas, tujuan penulisan, dsan mungkin juga ruang lingkup penulisan.
Luas cakupan bagian pembuka atau pendahuluan ini bervariasi sesuai dengan karya ilmiah yang ditulis. Ada pendahuluan yang hanya terdiri satu atau dua paragraf , ada juga yang terdiri dari satu bab dan kemudian dibagi-bagi lagi menjadi subtopik.
E. Komponen dan Subtansi Karya Ilmiah
Setip karya tulis mempunyai bagian awal, bagian inti, dan bagian penutup. Ketiga bagian ini dapat kita sebut sebagai batang tubuh sebuah tulisan. Jika karya-karya lain dapat hanya berupa batang tubuh tulisan tanpa tambahan maka karya ilmiah menuntut lebih dari itu. sebuah karya ilmiah yang paling sederhana, seperti makalah, biasanya paling tidak harus memuat daftar pustaka atau daftar rujukan yang digunakan oleh penulis sebagai rujukan dalam mengungkapkan topik/masalah dan dalam memberikan argumentasi.
Karya ilmiah yang berupa karya ilmiah, lebih-lebih yang akan dipublikasikan menuntut adanya abstrak (saripati tulisan) yang dimuat setelah judul artikel dan nama penulis.
Karya ilmiah berupa skripsi, tesis, dan disertasi dilengkapi dengan kokmponen lain, seperti abstrak, daftar gambar dan tabel, ucapan terimah kasih (kata pengantar), dan tentu saja daftar pustaka dan lampiran.
Subtansi karya ilmiah pada umumnya dikelompokkan berdasarkan disiplin ilmu. Sejalan dengan pemikiran ini, ada karya ilmiah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial (termasuk di dalamnya ilmu-ilmu pendidikan, pengetahuan sosial, dan ekonomi), ilmu-ilmu eksakta, seperti Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Seni.
F. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah ragam bahasa tulis baku. Ragam bahasa tulis baku dapat dilihat dari kata atau istila kalimat yang digunakan. Kata atau istila yang digunakan adalah kata atau istila baku, yang digunakan dengan makna yang tepat. Satu istila atau kata dapat dikatakan baku jika pembentuknya dan cara penulisannya sesuai dengan kaidah pembentukan kata/atau istila bahsa Indonesia.
G. Langkah-langkah Persiapan Penulisan Karya Ilmiah
a. Pemilihan Topik/Masalah untuk Karya Ilmiah
Menentukan topik untuk karya ilmiah dalam berbagai hal menyerupai pemiliahn topik untuk karangan bebas. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan topik untuk karya ilmiah ini. Dalam penulisan karangan bebas, lebih-lebih tulisan fiksi, penulisan bebas berfantasi, bebas menentukan siapa calon pembaca dan bebas pula menentukan cakupan cerita yang akan dituturkannya.
Namun, dalam penulisan karya ilmiah tidak demikian halnya, dimana dalam penulisannya harus mengikuti kaidah kebenaran dalam isi, metode kajian, serta tata cara penulisannya yang bersifat keilmuan. Salah satu cara untuk memenuhi kaidah tersebut adalah dengan melakukan pemilihan topik yang jelas dan spesifik. Pemilihan topik untuk karya ilmiah dapat dilakukan dengan cara perumusan tujuan, menentukan topik dan melakukan penelusuran terhadap topik tersebut.
1. Merumuskan tujuan
Apa yang diharapkan dapat diketahui oleh pembaca setelah membaca tulisan Anda? Apabila Anda dapat menjawab pertanyaan tersebut, artinya Anda telah menentukan tujuan dengan baik. (Brusaw, et all, 1982). Pada umumnya, terlalu sering para penulis pemula merumuskan tujuan penulisan karya tulis ilmiah yang terlalu umum atau terlalu luas. Artinya, dengan membaca rumusan tujuan tersebut para pembacanya tidak bisa membayangkan apa yang akan dipaparkan penulis dalam karya tulis tersebut.
2. Menentukan topik
Dalam membuat karya ilmiah, topik tulisan dapat ditentukan oleh Anda sendiri atau orang lain. Tidak masalah apakah topik itu Anda sendiri yang memilih atau ditentukan oleh orang lain maka langkah pertama yang harus Anda lakukan di dalam menentukan topik adalah menentukan ide-ide utama. Kemudian uji dan tanya pada diri sendiri apakah ide-ide itu yang Anda akan tulis. Beberapa ide kadang-kadang perlu diendapkan terlebih dahulu dalam pikiran kita.
Setelah Anda memperoleh ide untuk tulisan, hal berikutnya yang perlu Anda lakukan adalah bertanya pada diri sendiri tentang hal-hal berikut.
a) Apakah Anda akan betul-betul akan mengulas topik tersebut secara lebih mendalam?
b) Mudahkah bagi Anda untuk mendapatkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan untuk menunlis topik tersebut?
c) Apakah topik tersebut mudah dipilah menjadi bagian-bagian lebih kecil yang dapat dikembangkan lebih lanjut?
d) Pertanyaan seperti apa yang dapat diajukan terhadap topik yang dipilih tersebut?
3. Menelusuri topik
Bila topik telah ditentukan, maka Anda harus memfokuskan topik tersebut agar dalam penulisannya tepat sasaran. Berikut ini akan diuraikan langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka lebih memfokuskan topik yang telah dipilih.
1) Fokuskan topik agar mudah dikelola
Salah satu kendala terebesar yang menghambat keberhasilan penulisan karya ilmiah adalah terlalu luasnya topik tulisan. Jika Anda dapat mendefenisikan topik yang diterima atau ditugaskan sesuai pengetahuan dan pengalaman pribadi Anda artinya Anda telah mulai merumuskan topik tersebut sesuai dengan yang mampu yang Anda kelola. Namun harus perlu diingat bahwa harus memilah dan mempersempit topik tersebut sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman Anda, dan masih tetap harus mencoba mengidentifikasi bagian-bagiannya agar diperoleh topik yang betul-betul spesifik dan mungkin ditulis.
2) Ajukan pertanyaan
Pada saat topik sudah dipilih dan dipilah menjadi bagian-bagain yang mudah dikelola, Anda dapat membedahnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa. Misalnya, apa yang terjadi? Siapa yang menyebabkan terjadi atau siapa yang mempengaruhi sampai hal itu terjadi? Bagaimana hal tersebut terjadi? Bagaimana hal tersebut terjadi? Mangapa hal itu terjadi? Dan apa akibatnya?
b. Mengidentifikasi Pembaca Karya Ilmiah
Setelah diperoleh topik yang definitif untuk dikembangkan lebih lanjut, langkah berikutnya yang harus Anda lakukan pada tahap persiapan penulisan adalah mengidentifikasi calon pembaca tulisan. Salah satu ciri tulisan yang efektif adalah memantu pembacanya mengerti sesuatu yang diuraikan di dalamnya. Kewajiban seorang penulis karya ilmiah di sini adalah memuaskan keutuhan pembacanya akan informasi, yaitu dengan cara menyampaikan pesan yang yang ditulisnya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Dengan kata lain, sebelum Anda memulai menulis, ada baiknya Anda harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan Anda tersebut. Hal ini penting, karena dengan mengetahui latar belakang pengetahuan dan minat pembaca, akan mempermudah Anda di dalam mengorganisasikan materi sajian dan cara penyampaiannya. Selain itu, fokus pembicaraan pun menjadi semakin jelas dan spesifik.
c. Menentukan Cakupan Isi Materi Karya Ilmiah
Apabila berdasakan tujuan dan karakteristik pembaca Anda telah mempu membedakan mana materi yang penting dan mana yang tidak untuk dimasukan dalam tulisan, maka, sebetulnya Anda telah menentukan cakupan materi yang akan ditulis. Cakupan meteri adalah jenis dan jumlah informasi yang akan disajikan di dalam tulisan
Antonim, Makna Kata dan Makna Istilah
1. Antonim
Antonim berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu onama yang berarti “nama” dan anti yang berarti “melawan” jadi secara harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain pula.
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satu ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertengahan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.
Contoh:
• keras x lembek
• naik x turun
• kaya x miskin
• laki-laki x perempuan
• atas x bawah
Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonim itu dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
1. Antonim yang bersifat mutlak
Antonim mutlak adalah antonim yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, maksudnya tidak ada lawan kata selain kata itu.
Contoh:
• hidup x mati
Kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati, sebab sesuatu yang masih hidup tentunya belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya sudah tidak hidup lagi.
2. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi
Contoh:
• besar x kecil
• terang x gelap.
Jenis antonim ini disebut bersifat relatif, karena batas antara yang satu dengan yang lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas.
3. Antonim yang bersifat relasional
Contoh:
• membeli x menjual
• suami x istri,
• guru x murid
Antonim jenis ini disebut relasional, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain. Adanya membeli karena adanya menjual, adanya suami karena adanya istri. Jika salah satu tidak ada maka yang lain juga tidak ada.
4. Antonim yang bersifat hierarkial
Contoh:
• Tantama x bintara
• Gram x kilogram
Di atas bersifat hierarkial, karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki. Demikianlah, kata tantama dan bintara dalam satu garis kepangkatan militer, kata gram dan kilogram berada dalam satu garis jenjang ukuran timbangan.
2. Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna. Pada awalnya, makna memiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas.
Contoh:
- Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan, tapi bisa juga hasil perbuatan menahan.
- Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.
istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.
Contoh:
- Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.
Antonim berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu onama yang berarti “nama” dan anti yang berarti “melawan” jadi secara harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain pula.
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satu ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertengahan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.
Contoh:
• keras x lembek
• naik x turun
• kaya x miskin
• laki-laki x perempuan
• atas x bawah
Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonim itu dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
1. Antonim yang bersifat mutlak
Antonim mutlak adalah antonim yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, maksudnya tidak ada lawan kata selain kata itu.
Contoh:
• hidup x mati
Kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati, sebab sesuatu yang masih hidup tentunya belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya sudah tidak hidup lagi.
2. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi
Contoh:
• besar x kecil
• terang x gelap.
Jenis antonim ini disebut bersifat relatif, karena batas antara yang satu dengan yang lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas.
3. Antonim yang bersifat relasional
Contoh:
• membeli x menjual
• suami x istri,
• guru x murid
Antonim jenis ini disebut relasional, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain. Adanya membeli karena adanya menjual, adanya suami karena adanya istri. Jika salah satu tidak ada maka yang lain juga tidak ada.
4. Antonim yang bersifat hierarkial
Contoh:
• Tantama x bintara
• Gram x kilogram
Di atas bersifat hierarkial, karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki. Demikianlah, kata tantama dan bintara dalam satu garis kepangkatan militer, kata gram dan kilogram berada dalam satu garis jenjang ukuran timbangan.
2. Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna. Pada awalnya, makna memiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas.
Contoh:
- Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan, tapi bisa juga hasil perbuatan menahan.
- Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.
istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.
Contoh:
- Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.
Pengertian Pragmatik
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions).
Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat dibedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut ‘fungsi komunikatif’ (Purwo, 1990:2).
Seorang filosof dan ahli logika Carnap (1938) menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak. Pragmatik mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda. Selanjutnya Montague mengatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai “idexical“ atau “deictic“. Dalam pengertian ini pragmatik berkaitan dengan teori rujukan atau deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakaiannya. Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian linguistik, bidang yang merupakan penelitian bagi para ahli bahasa. Pragmatik yang dimaksud sebagai bahan pengajaran bahasa atau yang disebut fungsi komunikatif, biasanya disajikan dalam ajaran bahsa asing.
Levinson (1983) dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang dikemukakan Levinson (1983: 9), antara lain mengatakan bahwa (1) “Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, “pengertian/pemahaman bahasa” menunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2)“Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu”. (Nababan, 1987: 2)
Dalam batasan ini berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut. Batasan lain yang dikemukakan Levinson mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu. Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177).
Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat dibedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar. Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu (a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut ‘fungsi komunikatif’ (Purwo, 1990:2).
Seorang filosof dan ahli logika Carnap (1938) menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak. Pragmatik mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda. Selanjutnya Montague mengatakan bahwa pragmatik adalah studi mengenai “idexical“ atau “deictic“. Dalam pengertian ini pragmatik berkaitan dengan teori rujukan atau deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakaiannya. Pragmatik merupakan salah satu bidang kajian linguistik, bidang yang merupakan penelitian bagi para ahli bahasa. Pragmatik yang dimaksud sebagai bahan pengajaran bahasa atau yang disebut fungsi komunikatif, biasanya disajikan dalam ajaran bahsa asing.
Levinson (1983) dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang dikemukakan Levinson (1983: 9), antara lain mengatakan bahwa (1) “Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, “pengertian/pemahaman bahasa” menunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2)“Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu”. (Nababan, 1987: 2)
Dalam batasan ini berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut. Batasan lain yang dikemukakan Levinson mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu. Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177).
Langganan:
Postingan (Atom)